Cara pembuatan Tuak & Brem, Minuman Lokal Masyarakat lombok

Pulau Lombok Dikenal dengan berbagai tradisi adat dan budaya, Lombok menyimpan Beribu keunikan yang tidak boleh di lewati salah satunya ialah minuman khas masyarakat lombok yaitu Tauk & Brem,, Minuman ini termasuk minuman alkohol dari hasi permentasi yang tidak boleh di konsumsi secara berlebihan, dalam agama tertentu Mengharamkan minuman ini karena dapat memabukkan. Alangkah lebih indahnya untuk saling menghormati dan menghargai. Berikut Cara dan proses pembuatan Brem dan Tuak

Tuak

Tuak adalah minuman fermentasi tradisional yang terbuat dari nira (getah) kelapa atau aren. Minuman ini memiliki rasa manis dengan sedikit aroma khas hasil fermentasi, dan kandungan alkohol yang bervariasi tergantung pada proses fermentasinya.

Cara Pembuatan Tuak:

  1. Pengumpulan Nira: Nira dikumpulkan dari pohon kelapa atau aren. Biasanya, nira diambil dari tandan bunga yang dipotong dan diikat dengan wadah bambu atau wadah khusus lainnya untuk menampung cairan yang menetes.
  2. Fermentasi: Nira kemudian dibiarkan berfermentasi secara alami. Proses fermentasi ini bisa berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari, tergantung pada keinginan untuk mencapai tingkat alkohol tertentu.
  3. Penyaringan: Setelah fermentasi selesai, tuak disaring untuk memisahkan kotoran atau partikel yang mungkin ada.
  4. Penyajian: Tuak siap untuk diminum. Biasanya, tuak disajikan dalam wadah tradisional dan diminum segar.

Di Lombok, tuak sering kali dikonsumsi dalam berbagai upacara adat atau acara sosial sebagai bentuk perayaan. Minuman ini juga sering digunakan dalam berbagai ritual.

Brem

Brem adalah minuman fermentasi yang terbuat dari beras ketan hitam atau putih. Minuman ini memiliki rasa manis dan sedikit asam dengan kandungan alkohol yang ringan hingga sedang. Brem biasanya lebih umum ditemukan di Bali, tetapi juga dikenal dan dikonsumsi di Lombok.

Cara Pembuatan Brem:

  1. Persiapan Beras Ketan: Beras ketan hitam atau putih dicuci bersih dan direndam dalam air selama beberapa jam.
  2. Pengukusan: Beras ketan yang sudah direndam kemudian dikukus hingga matang.
  3. Pencampuran dengan Ragi: Beras ketan matang dicampur dengan ragi khusus yang akan membantu proses fermentasi. Campuran ini kemudian dibiarkan dalam wadah tertutup selama beberapa hari hingga beberapa minggu.
  4. Ekstraksi Cairan: Setelah fermentasi, cairan yang dihasilkan diekstrak dari campuran beras ketan. Cairan inilah yang dikenal sebagai brem.
  5. Penyaringan dan Penyimpanan: Brem disaring untuk memisahkan partikel padat dan kemudian disimpan dalam wadah tertutup sebelum siap disajikan.

Brem sering diminum sebagai minuman perayaan atau untuk menghangatkan tubuh. Di Lombok, brem juga digunakan dalam beberapa ritual adat dan upacara tradisional.

Pengaruh Budaya dan Sosial

Baik tuak maupun brem memiliki peran penting dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Lombok. Keduanya tidak hanya sekadar minuman, tetapi juga bagian dari identitas dan tradisi lokal.

  • Upacara Adat: Tuak dan brem sering digunakan dalam upacara adat seperti pernikahan, khitanan, dan upacara lainnya
  • Kehidupan Sosial: Minuman ini juga merupakan bagian dari kehidupan sosial sehari-hari, di mana mereka sering kali dinikmati dan dijadikan simbol penyambutan tamu di komunitas tertentu

Tuak dan brem adalah lebih dari sekadar minuman tradisional di Lombok; Minuman ini mengandung alkohol yang tidak boleh di konsumsi secra berlebihan, Minuman ini sering kita jumpai pada acara adat masyarakat lombok namun pada daerah tertentu saja. masyarakat lombok adalah mayoritas beragama islam. dengan seiring berkembangnya zaman minuman ini sudah tidak banyak di konsumsi oleh masyarakat karena sudah faham agama dan sadar akan bahaya alokohol jika di konsumsi secara berlebihan

Situs Media Informasi dan Promosi Pariwisata NTB

Kamu mungkin menyukai