Vihara ummat budha terbesar di NTB, Ternyata ada di Lombok Barat

Sejarah

Di masa lalu, Desa Lendang Perang yang terletak di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), merupakan saksi bisu dari peperangan yang sering terjadi di antara wilayah perbatasan Lombok Barat dan Lombok Tengah. Nama “Lendang Perang” sendiri mencerminkan sejarah kelam tersebut, di mana “lendang” dalam bahasa Lombok berarti lapangan atau tempat yang luas, sementara “perang” menggambarkan konflik yang pernah melanda desa ini.

Namun, seiring berjalannya waktu, Lendang Perang mengalami transformasi luar biasa. Kini, desa ini dikenal dengan nama yang lebih optimis dan damai, yaitu “Lendang Damai.” Pergantian nama ini bukan sekadar perubahan sebutan, tetapi juga simbol dari harapan dan komitmen masyarakat setempat untuk hidup dalam harmoni dan perdamaian.

Warisan Sejarah

Selain perubahan namanya, Lendang Damai juga memiliki peninggalan sejarah yang menarik untuk dijelajahi. Pada masa pendudukan Jepang, desa ini digunakan sebagai tempat persembunyian, meninggalkan jejak sejarah berupa situs-situs yang kini menjadi destinasi wisata yang menawan. Salah satu yang paling terkenal adalah Jembatan Meraje, yang terletak di atas Gunung Meraje. Jembatan ini tidak hanya menjadi saksi bisu sejarah masa lalu, tetapi juga menawarkan pemandangan alam yang memukau dari ketinggian.

Masyarakat yang Beragam

Desa Mareje, yang termasuk dalam wilayah Lendang Damai, memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Mayoritas penduduknya adalah suku Sasak, suku asli Lombok yang dikenal dengan keramahannya. Keunikan lain dari desa ini adalah keragaman agama yang dianut oleh masyarakatnya. Meskipun sebagian besar penduduknya memeluk agama Islam, desa ini juga menjadi rumah bagi komunitas Buddha yang signifikan.

Faktanya, desa Mareje adalah tempat berdirinya vihara terbesar di NTB, yang menjadi pusat spiritual dan kegiatan keagamaan bagi umat Buddha setempat. Di masa lalu, desa ini juga pernah menjadi lokasi pertempuran antara umat Hindu dan Islam, yang mencerminkan konflik antaragama yang pernah terjadi. Namun, hari ini, Mareje adalah simbol keberagaman dan toleransi, di mana masyarakat dengan latar belakang agama yang berbeda hidup berdampingan dalam damai.

Lendang Damai dan desa Mareje adalah contoh nyata bagaimana sebuah komunitas bisa bangkit dari masa lalu yang penuh konflik menuju masa depan yang lebih cerah dan harmonis. Dengan warisan sejarahnya yang kaya dan masyarakatnya yang beragam, desa ini tidak hanya menawarkan cerita yang menarik, tetapi juga pelajaran penting tentang perdamaian dan kerukunan. Bagi para wisatawan yang ingin melihat sisi lain dari Lombok, Lendang Damai adalah destinasi yang wajib dikunjungi.

Tim Redaksi Pariwisatantb.com

Kamu mungkin menyukai